Kamis, 30 April 2015

Kisah Sukses Sunarno, dari Pemulung menjadi Milyarder

Kisah Sukses Sunarno, dari Pemulung menjadi Milyarder 
Kisah Sukses Sunarno, dari Pemulung menjadi MilyarderBapak Sunarno namanya, ia adalah mantan pemulung yang sekarang menjadi orang kaya berkat ketekunannya menjalankan bisnis MLM Forever Young Indonesia. Dulu ia mencari nafkah dengan mengais-ngais sampah. Kini ia jadi jutawan MLM karena mensukseskan orang lain.
Jangan sekali-kali meremehkan profesi seorang pemulung. Lewat bisnis MLM nya, pemulung ini bisa jadi jutawan. Setidaknya begitulah yang dialami Sunarno“Saya sendiri tidak membayangkan, setelah menemukan usaha ini ternyata kok lebih cepat daripada rekan-rekan yang lebih mapan dan berpendidikan,” tutur pria kelahiran Solo, 5 Agustus 1961 ini. Tentunya berkat satu hal. Kerja Keras.
Prestasi yang diraihnya memang paling cepat dibanding yang lain. Hanya dalam kurun 27 bulan, ia berhasil menempati peringkat Senior Network Director, posisi tertinggi di Forever Young MLM. Jaringannya kini sudah lebih dari 100 ribu orang, tersebar di seluruh Indonesia. Seiring dengan itu, penghasilan di atas Rp15 juta per bulan, sepeda motor, mobil, rumah, dan berbagai bonus wisata ke luar negeri telah dinikmatinya.
Lantaran lahir dari keluarga miskin, Sunarno hanya bisa menamatkan SD. Lebih prihatin lagi, sejak kecil ia sudah yatim piatu. Terpaksa ikut orang ke beberapa kota, jadi kacung untuk sekedar bisa hidup. Tapi itu tidak lama dilakoni. Ketika kembali ke Solo, akhirnya ia memilih profesi pemulung. Kok jadi pemulung? “Saya bosan jadi kacung yang selalu disuruh-suruh orang. Jiwa saya ingin kebebasan,” jawabnya.
Tinggal di daerah kumuh yang berjarak 500 meter dari tempat pembuangan sampah. Pekerjaannya mengais-ngais sampah, mengumpulkan barang bekas. Plastik dan kardus jadi incarannya. Setiap hari ia bersama teman-teman menanti datangnya truk sampah. Begitu mobil pembawa rejeki tiba, mereka berlarian mendekat, lalu berebut barang-barang bekas – siapa cepat, dia dapat. “Apalagi yang namanya balung (tulang sapi). Itu ibarat emas bagi kami. Nilainya tinggi kalau dijual,” jelas ayah dua anak ini.
Ia sendiri pernah merasa amat bahagia sewaktu mendapatkan bonggol kubil (kol). Soalnya “benda berharga” itu didapatnya setelah mengalahkan beberapa saingan. Lewat “kompetisi” yang ketat ia berhasil mendapatkannya. “Hati saya bangga dan puas karena itu suatu prestasi,” katanya tersenyum. Ada satu hal lagi yang membahagiakan hatinya, yaitu saat menyetel radio tatkala masih hidup di kolong jembatan.“Sayangnya tak terkira, sama bahagiannya dengan orang naik Mercy atau Volvo,” tambah ayah tiga anak ini.
Sinar terang perubahan hidup mulai tampak pada 1994, ketika tetangganya memperkanalkan bisnis MLM. Hampir tiap hari tetangga sebelah bercerita, walau kadang-kadang ia tidak menangkap maksudnya. Maklum cuma lulusan SD. Jangankan ngerti, untuk hafal nama MLM yang berbahasa Inggris itu saja susah banget. “Seminggu belum hafal,” katanya tertawa. “Tadinya saya nggak mikirin. Tapi lantaran sering dengar dan lihat, lama-lama hafal juga.”
Kuncinya Yakin
Setelah belajar dan ditempa dalam berbagai training dan seminar, dalam hatinya timbul keyakinan. Mulailah ia menjalani bisnis MLM sepenuh hati. Pagi hari, sesuai profesi, ia cari barang-barang bekas. Siangnya, setelah
mandi, pergi memprospek orang.
Di usaha apa saja pasti ada tantangan. Sunarno pun begitu. Dibilang ngeyel atau mimpi, itu masih halus. Soalnya, ada yang mencercanya bagai cicak makan tiang. Namun itu tidak mengecilkan hatinya, sebab sejak kecil ia sudah terbiasa dengan kompetisi dan tantangan. “Itulah yang mendorong saya untuk maju. Orang gagal itu biasanya engga mau menghadapi tantangan. Kalau engga siap mental, yang paling mudah dilakukan adalah berhenti,” kata pria yang gemar bertani ini.
Menurut Sunarno, kunci keberhasilannya hanya satu: keyakinan. Sebab keyakinan itu seakan-akan kenyataan. Ia tumbuh dari penguasaan materi dan belajar dari orang-orang sukses. Bila ingin sukses, bergabunglah dengan orang-orang sukses, minimal ketularan. Motivasinya dalam berusahan sederhana saja: kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa. Pasti bisa!
Lucunya, dulu karena tinggal di tempat kumuh, sebagian orang belum mau menerima ajakannya. “Kalau kamu berhasil, baru saya mau ikut,” kata mereka. Namun setelah berhasil, Sunarno menagih janji. Mereka menjawab, “Lha iya, terang saja Pak Narno sekarang sudah berhasil kok.” Jadi lagi-lagi saya yang disalahkan, katanya sembari tertawa kecil. “Itu soal mental. Semua itu kembali ke pribadi masing-masing.”
Bila teringat kehidupan masa lalu, Sunarno masih diliputi rasa haru. Jadi ketika dapat fasilitas rumah dari MLM, Sunarno sengaja memilih di Mojosongo, daerah yang ia huni dulu agar tidak lupa pada sejarah. Tapi bila dulu orang meremehkannya, sekarang lain, “Kalau lingkungan butuh sesuatu, saya yang lebih dulu dimintai sumbangan,” ujarnya.

Pengusaha Muda yang Merintis Usahanya Dari Nol Hingga Sukses

Pengusaha Muda yang Merintis Usahanya Dari Nol Hingga Sukses



1383654523200681094
Menjadi seorang  wirausaha muda sukses itu tak semudah membalikkan telapak tangan dan juga tak sesulit mengambil bintang di langit. Banyak proses yang perlu di lalui, banyak pengalaman yang perlu didapati dan juga banyak hal yang masih perlu dipelajari.
Untu kitu, selagi masih muda, mencobalah untuk berbisnis atau berwira usaha. Tak perlu usaha yang memerlukan modal berjuta-juta. Cukup dengan modal yang minim atau menjalankan usaha tanpa modal usaha yang dijalankan akan berhasil dan sukses.
Bicara mengenai wirausahawan muda yang sudah sukses. Sebenarnya di Indonesia sudah banyak sekali, walaupun tingkat kesuksesan seseorang itu berbeda-beda.
Seperti seorang anak muda yang bernama Ayudia Hapsari yang mulai berbisnis ketika masih sekolah dari tahun 2008 hingga sekarang. Dengan di bantu ibunya ia bisa menjual sekitar 8 cake setiap minggunya, itupun dengan modal yang sangat minim sekali.
Tidak mempunyai latar belakang bisnis, ia lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni jurusan Bahasa Indonesia. Motivasi ia membuka bisnis adalah “ingin membuka lapangan pekerjaan sendiri dan bias mempekerjakan orang lain dibandingan meminta dan mengemis pekerjaan kepada orang lain” itu ucapnya dalam obrolan kami. Sasaran pembeli utama ia adalah kalakang Mahasiswa, maka dari itu tidaklah heran harga yang ditawarkan cukuplah terjangkau.
Bermula dari berjualan di kampus dengan penghasilan yang tidak menentu dan sekarang ia sudah mempunyai penghasilan tetap sebesar 2,5juta/bulannya, “tidaklah mudah mendapatkan hasil manis seperti itu ada jatuh bangunnya dalam suatu bisnis dan itu yang membuat bisnis kita maju” itu yang diuraikannya.
Dalam keinginannya untuk menjalankan bisnis pastry itu. Kemudian dia berkeinginan mempunyai lebel sendiri agar bias dikenal oleh orang banyak. Dan pada Juli 2012 ia mempunyai lebel untuk bisnisnya yang diberi nama Tina Licious Bandung.
Dan sekarang bisnisnya pun dikenal di berbagai Universitas Negeri di Bandung. Agar bisnisnya semakin diminati oleh kalangan Mahasiswa khususnya ia membuat strategi bisnisnya dengan memasang iklan-iklan di berbagai akun twitter Universitas di Bandung dan memberikan bonus kue di berbagai kuis di akun twitternya. Itulah strategi bisnis yang cukup baik untuk memulai bisnis.
“Berbisnis itu bukan hanya mencari penghasilan, didalam bisnis kita juga belajar untuk bersabar, berbagi dan bangkit juga pantang menyerah.” Itulah yang menjadi semangat dalam berbisnisnya.

Pengusaha Sukses Dari Nol
BasKo atau nama lengkapnya Basrizal Koto lahir di Pariaman, SumBar tahun 1959.  Ia seorangpengusaha sukses berbisnis di banyak bidang, seperti: media, percetakan, pertambangan, peternakan, perhotelan properti, dan lain-lain. Masa kecilnya yang serba kekurangan memaksanya bekerja keras dan bertekad kuatmelawan kemiskinan. Dia tak mau menyalahkan keadaan. Karena memangmemang sudah takdirnya dilahirkan dari keluarga yang serba kekurangan. Menyalahkan takdir, sama dengan menggugat ketentuan ALLAH, katanya. Dia benar-benar memulainya dari nol. Jangankan modal uang, sodal pendidikan pun dia tidak punya. Basko, bahkan tidak menamatkan Sekolah dasarnya. Seperti kita paham, budaya lelaki di Sumatera Barat adalah budaya perantau. maka, dengan ijin ibundanya, pada saat kelas 5 SD, ia memilih untuk merantau ke Riau, dibanding meneruskan sekolahnya.
Basrizal Koto Pengusaha Sukses yang Tak tamat SD
Basrizal Koto Pengusaha Sukses yang Tak tamat SD

Apa kunci suksesnya?

Sebelum pergi, ibunya memberi nasehat panjang padanya. Dan intinya adalah 3K, yaitu  pandai ber-Komunikasi, cari segala Kemungkinan, manfaatkan Kesempatan dan peluangnya, serta bekerjalah dengan Komitmen yang tinggi. Prinsip inilah yang ia diterapkan dalam bisnis-bisnisnya hingga seperti sekarang. Dia ingat, pertama kali di Riau, ia berangkat saat fajar ke terminal bis dan menawarkan diri menjadi kondektur oplet. Kehidupan menjadi kondektur oplet itu memberinya banyak pelajaran hidup soal komunikasi dan komitmen itu. Selain menjadi kondektur, beliau juga pernah berjualan pisang, petai, jadi supir hingga jadi makelar kenderaan. Semua dijalaninya sebagai sebuah proses pembangunan dirinya.
Terampil komunikasijaringanmenepati janji, dan menjaga kepercayaan akhirnya membawa kesuksesan untuk menaklukkan kemiskinan, membangun kerajaan bisnis, dan menciptakan lapangan kerja.
Jumlah perusahaannya kini telah mencapai 15 perusahaan, dan sejak 2006 dia juga terjun ke bisnis pertambangan batu bara di Riau, menyediakan TV kabel dan layanan internet di Sumatera. Beberapa perusahaan yang masuk Grup MCB miliknya adalah PT Basko Minang Plaza (pusat perbelanjaan), PT Cerya Riau Diri Printing (CRMP) (pencetakan), PT Cerya Zico Utama (properti), PT Jaya Bastara Muda (tambang batubara), PT Riau Agro Mandiri (penggemukan, impor dan ekspor ternak), PT Agro Mandiri Riau Perkasa (pembibitan, pengalengan daging), PT Indonesian Mesh Network (TV kabel dan Internet), dan PT Hotel Best Western dan sekarang berganti nama menjadi Premier Basko Hotel Padang.
Ketika ditanya apakah yang membuat pak Basko mampu berkembang dan bertahan terus, maka beliau menuliskan rangkaian kalimat berikut, yang sangat menginspirasi saya:
Tidak ada kata menyerah.
Tidak ada kata menyalahkan atas kemiskinannya.
Tidak ada kata kecewa dan keluhan.
Tidak ada kesombongan.
Tidak ada kebencian.
Tidak ada kedurhakaan kepada orang tua.
Tidak ada kata memanjakan anak-anaknya.
Tidak ada kata malas.
Tidak ada kata tidak bisa.
Tidak ada behenti, terus berlari.
Tidak ada kata tidak layak.
Tidak ada kata nyaman.
Tidak ada kata tidak bersyukur.
Kecuali kata terima kasih Ya Allah atas segala-galanya.
H.Basrizal Koto

Awas Pelantang Telinga



AWAS PELANTANG TELINGA !!!!!
Mendengarkan musik bagi sebagian orang kurang asik  jika tidak menggunakan pelantang telinga atau head set.Alat tersebut dapat membuat suara yang dikeluarkan pemutar musik terdengar lebih keras di telinga.cara pemakaian mudah,hanya dengan menempelkan ke telinga,serta mengatur volumenya sehingga membuat siapa saja bisa menggunakanya.
 Hasil gambar untuk pelantang telinga

Menyumbat telinga dengan soeaker kecil itu bertujuan mencegah masuknya suara lain dari luar.Suara akan terdengar lebih keras karena langsung menuju ke indera pendengaran.
  Dalam proses mendengar telingga mempunyai 2 sistem hantaran dalam menerima bunyi dari luar.Pertama hantaran udara atau air condicion  kedua hantaran tulang atau bone condicion pada hantaran udara bunyi dihantarkan udara lalu masuk ke telinga dan menggetarkan gendang telinga .Kemudian getaran tersebut akan terus masuk keruang keong (koklea) .Cairan dalam rumah siput mengarah ke bulu-bulu halus untuk merangsang serabut syaraf pendengaran.Syaraf pendengaran lalu menyampaikan ke otak sehingga kita bisa mengartikan atau mengidentifikasi suara tertentu.
  Proses yang sama terjadi pada hantaran tulang .Bedanya ,getaran bunyi tidak disampaikan udara melalui tulang-tulang tengkorak ke cairan di telinga dalam.Jenis ini berperan sebagai penghantaran bunyi yang sangat keras.Nah jka kita menempelkan pelantang telinga ,maka yang terjadi  adalah  telingga menerima bunyi dari dua jenis hantaran sekaligus ,yaotu udara dan tulang.Ditambah dengan tidak adanya suara darai luar yang masuk ke telinga.Maka pelantang telinga memang selalu berhasil membuat pendengaran fokus pada suara yang didengar.
   Sayangnya belum banyak yang mengetahui  bahwa dibalik kebiasaan mendengarkan musik dengan volume keras ,indra pendengar terancam mengalami kerusakan.Hal itu bisa terjadi Jika kita mendengarkan suara sangat keras dan dalam waktu yang lama suara normal,ambang pendengaran manusia sangat fleksibel ,sehingga kadangkala nilai ambang dapat bergeser sesuai lamanya paparan suara atau intensitas suara yang didengar.Saat suara mencapai 90  desibel,kita tidak disarankan mendengarkan lebih dari 30 menit.Namun hal tersebut sering kali tidak indahkan oleh kaum muda yang  mendengar kan musik dengan pelantang telinga berjam-jam.Mereka mendengarkan lagu sambari aktivitas lain seperti dalam perjalanan jauh,berolahraga bahkan saat tidur.

EFEK JANGKA PANJANG
Kerusakan akibat terlalu sering menggunakan pelantang telinga memang tidak segera bahkan titak membahayakan jiwa.Namun berkurangnya daya pendengaran sering tidak disadari dan sangat memungkinkan seseorang kehilangan pendengaran diusia muda.
Jadi jangan kelamaan menggunakan pelantang telingga atau head seat karena dapat menyebabkan TULI bagi kita .

Rabu, 29 April 2015

Tokoh Tokoh Penganjur Kedaulatan



Tokoh Tokoh Penganjur Kedaulatan 
Tokoh penganjur kedaulatan yaitu aurelius agustinus,thomas aquinas,john lock dan lain lain
.
saya akan berbagi biografi,latar belakang tokoh penganjur kedaulatan

AURELIUS AGUSTINUS DAN THOMAS AQUINAS
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Memahami dan mengkaji tentang ajaran dua tokoh filosofi, adalah salah satu diminsi ke Filsafatan yang takterlepas dari perjalanan pemikiran-pemikiran tentang Ilmu Filsafat itu sendiri.
Pada abad pertengahan ada dua tokoh yang sangat berpengaruh terhadap ajaran-ajaran yang lain pada waktu. Mereka adalah Agustinus dan Aquinas seorang filosof yang jenius, teori-teorinya dapat di kolaborasikan dengan filsafat-filsafat modern.
  1. Rumusan Masalah
Mengingat latar belakang masalah diatas maka kami mengangkat permasalahan-permasalahan tersebut menjadi rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini :
Seperti apakah pokok-pokok ajaran kedua tokoh dan bagaimanakah relefansinya terhadap bangsa indonesia!
  1. Metode
Metode yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini bersifat diskriptif, sementara Teknik pengumpulan data kami lakukan dengan cara membaca buku-buku terkait tentang Ilmu Filsafat..
BAB II
PEMBAHASAN
A. ARTI PENTING KEDUA TOKOH
Sebagai filosof yang mendominasi abad pertengahan kedua tokoh ini mempunyai pengaruh/arti penting yang besar terhadap ajaran-ajaran pada waktu itu.
Pertama, Agustinus (354-430). merupakan tokoh filsafat yang telah meletakkan dasar-dasar bagi pemikiran abad pertengahan mengadaptasi platonesme dengan ide-ide Kristen, memberikan formolasi sistematic terhadap filsafat Kristen, Agustinus merupakan sumber/asal usul reformasi yang dilakukan oleh protestan.
Paham teosentris pada Agustinus menghasilakan refolusi dalam pemikiran orang Barat. anggapannya yang meremehkan pengetahuan duniawi, kebenciannya terhadap teori-teori kealaman, imannya kepada tuhan tetap merupakan bagian peradaban modern. sejak zaman Agustinus orang barat lebih memiliki sifat introspektif, karena Agustinuslah diri dalam hubungannya dengan tuhan menjadi penting dalam filsafat. Sehingga kita selalu ingin memperoleh norma yang dapat mengulur tindakan-tindakan kita singkat. Pemikiran Agustinus mempunyai arti penting terhadap manusia modern.
Kedua, Tomas Aquinas (1225-1274) sebagai filosof yang mempunyai teori-teori yang dapat dikombinasikan reset-reset modern, terutma tentang teorinya yang sangat Vital pada waktu itu adalah teorinya tentang eksistensi tuhan pada waktu yang mempunyai arti penting terhadap perkembangan pola fikir masyarakat modern. namun denganmenggunakan pendekatan yang rasional, banyak keluarga yang melakukan penolakan terhadap ajaran-ajarannya, tapi bukan dengan itu akan mengurangi pamur Aquinas, malah keterannya makin populer. maka bukan tidak mungkin pemikiran Aquinas mempunyai arti penting terhadap pola fikir manusia modern.
B. BIOGRAFI TOKOH
1. Aurelius Augustinus, (354-430)
Augustinus lahir di tagasta, numidia ( sekarang Algeria), pada 13 november 354. ayahnya, patricius , adalah seorang pejabat pada kekaisaran romawi, yang telah kafir sampai kematiannya pada tahun 370. ibunya,monica (monnica), adalah penganut Kristen yang amat taat. Dalam bahasa latin augustinus di kenal dengan nama aurelius. Pendidikan yang mula-mula diterimanya ialah dalam bidang gramatika dan aritmetika. Ia sangat benci sama gurunya yang menggunakan hukuman dalam metode mengajarnya. Bahasa yunani di bencinya sehingga ia tidak mempunyai pengetehuan yang sempurna tentang bahasa itu.
Tatkala berumur sebelas tahun, ia dikirim ke sekolah madaurus, suatu tempat orang kafir, atau sebutlah lingkungan kafir. Lingkungan itu telah mempengaruhi perkembangan mral dan agamanya sementara ibunya selalu mendoakan agar anaknya itu menerima ajaran Kristen. Keinginan ibunya ditulis oleh augustinus dalam bukunya confessionnnns, yang bila diterjemahkan kira-kira berarti “pengakuan” atau “syahadat”. Tahun 369-370 dihabiskannya di rumah sebagai pengaggur, tetapi suatu bacaan tentang Cicero pada bukunya, hortensius, telah membimbingnya ke filsafat.
Pada tahun 370, karena bantuan kawanya, romanianus, ia pergi ke kartago. Di sana ia tinggal bersana seorang guru wanita yang melahirkan seorang anak untuknya yang bernama adeodatus 371. di sana ia menjadi seorang Manichean, yaitu suatu ajaran agama yang mengajarkan bahwa mani adalah mani yang terakhir, benar-benar sebagai juru selamat yang di janjikan oleh kristus. Ia lahir dipersia tahun 216 (selanjutnya lihat encyclopedia Americana, 18:218c; Runes, 1971:187). Pada tahun 373-374 ia mengajar di tagasta, dan sembilan tahun berikutnya ia mengajar di kartago. Kemudian ia pindah ke roma, dan di sana ia mendirikan sekolah retorika, dan ia pun meninggalkan ajaran mani, lalu menjadi seorang skeptis.sethun kemudian ia mendirikan sekolah di Milan.
Ada beberapa pengaruh yang di terimanya, di anataranya ialah dari saint ambrose, dari temannya simplicianus, dan dari neo-platonisme. Semua itu menggiringnya untuk menerima gereja Kristen. Tobatlah ia. Pada hari paskah 25 april 378 ia dan anaknya, adeodatus, dibaptiskan. Segera setelah itu ia dan kelurganya kembali ke afrika. Di ostia, pelabuhan roma, ibunya meninggal dunia setelah terjadi suatu pembicaraan yang indah dengannya yang direkamnya dalam confessions.
Setelah ia mengalami lonversi, ia mengabdikan seluruh dirinya kepada tuhan dan melayani pengikut-pengikutnya. Setelah ia kembali ke tagasta pada tahun 388, ia menjual seluruh warisan, dan uang hasil penjualan it diberikan semuanya kepada fakir miskin. Yang tinggal hanyalah sebuah rumah yang di rumahnya menjadi duatu tempat masyarakat birawan. Ia sebenrnya tidak berminat menjadi pendeta, tetapi pada tahun 391 ia di habiskan menjadi pendeta karena didesak oleh hamper semua orang di tempat tinggalnya dekat kota hipp0 (sekarang masuk wilayah aljazair).
Pada tahun 395-396 ia ditahbiskan lagi menjadi pembantu uskup di Hippo. Hippo adalah sebuah kota yang berpenduduk kira-kira tiga puluh ribu orang, tetapi gereja Kristen disana tidaklah kuat karena penduduknya campuran penganut berbagai agama dan berbagai suku. Tahun terakhir kehidupannya adalah tahun-tahun peperangan bagi Imperium Romawi. Pada bulan agustus tahun 403, Valdal, yang menuju kebarat setelah menguasai Kartago, mengepung Hippo. Di tengah-tengah penyerbuan pada tanggal 28 Agustus 430, Augustinus meninggal dunia dalam kesucian dan kemiskinan yang memang sudah lama dijalaninya. Setelah penaklukan itu orang Vandal menghancurkan semua yang dijumpai mereka kecuali gereja dan perpustakaan Augustinus, yang dibiarkan tanpa diganggu. (lihat Mayer: 355-357;Encyclopedia Americana, 2:685-686; Runes:28).
2. Thomas Aquinas (1225-1274)
Ia lahir di Roccasecca, Italia, pada tahun 1225 dari keluarga angsawan, baik Bapaknya maupun Ibunya. Pada masa mudanya dia hidup bersama Pamannyayang menjadi pemimpin orpo di monte Cassino. Ia beraa disana pada 1230-1239. Pada tahun 1239-1244 ia belajar Universitas Napoli, tahun 1245-1248. di Universitas Paris di bawah bimbingan Albertus tetap berada di Cologne. Tahun 1252 ia kembali belajar di Universitas Paris pada fakultas teologi. Tahun 1256 ia diberi Ijazah (Licenti Docendi) dalam bidang teologi, dan ia mengajar disana sampai tahun 1259. Tahun 1269-1272 ia kembali ke Universitas Paris untuk menyusun tantangan terhadap ajaran Ibnu Rusyd. Sejak tahun 1272 ia mulai mengajar di Universiti Napoli. Ia meninggal pada tahun 1247 di Lyons. karyanya yang paling penting ialah Suma Contra Gentiles (1258-1264) dan Summa Theologcai .(1266-1273) (Lihat Avey: 99).
C. AJARAN-AJARAN AURELIUS AGUSTINUS DAN THOMAS
AQUINAS.
1. Ajaran-ajaran Agustines
a. Theori Agustines tentang jira.
Agustines menentang ajaran yang mengatakan bahwa jira itu material. Menurutnya jira atau roh itu imaterial. Agustines membuktikan immaterialnya jira dengan mengatakan bahwa jira itu didalam badan, ada dimana-mana dan dalam waktu yang sama,bila jiwa itu material ia akan terikat pada tempat tertentu dalam badan, hanya dengan mengatakan bahwa jiwa itu material kta dapat menjelaskan kegiatan jiwa didalam badan (Mayer : 359).
Menurut Agustinus, jiwa tidak mempunyai bagian karena ia imaterial. akan tetapi jiwa mempunyai tiga (3) kegiatan pokok, pertama : Mengingat. Kedua : Mengerti. Ketiga : Mau, oleh karena itu jiwa memiliki atau menggambarkan ketritunggalan alam (The Cosmic Trinity).
Agustinus menolak pandangan neo-platonesme yang mengatakan bahwa ada dunia jiwa dan dunia roh. Menurut Agustinus yang adalah jiwa yang tunggal dan individual, dikatakan tunggal karena jiwa ada dalam badan. Jiwa tidak ada bila badan tidak ada. Akan tetapi, ia juga mengatakan bahwa jika tidak bergantung pada badan, badan akan binasa sedangkan jiwa tidak. Ia juga mengatakan bahwa jiwa itu Immortal (Immortal artinya tidak bisa musnah) katany kebenaran bersifat abadi, jiwa memiliki kebenaran itu (Kebenaran itu ada didalam jiwa ) karena itu mestilah jiwa itu bersifat abadi.
b. Teori Pengetahuan
Agustinus menolak teori kemungkinan, kita, katanya, tidak pernah dituntut oleh ukuran relatif, inilah argumennya, saya tau bahwa saya tau dan mencinta. Bagaimana jika anda bersalah? saya bersalah, jadi saya ada, kesalahan saya membuktikan adanya saya,jika saya tau bahwa saya tidak berrsalah, saya pun tau bahwa saya ada. saya mencintai diri saya, baik ta’kala saya nersalah tak kala saya tidak bersalah, kedua-duanya tidak palsu. Bila kedua-duanya palsu, maka saya mencintai objek yang palsu, jadi saya mencintai objek yang tidak ad. akam tetapi karena saya benar-benar ada, jadi tidak ada orang yang ingin tidak ada sebab bagaimana mungkin seseorang memiliki kebahagian sementara ia tidak ada.
Dalam argument ini sesungguhnya Agustinus mengandalkan rasio dan logika, ia mengandalkan kesadaran,jadi mengandalkan persamaan, keadaan saya bersalah, atau keadaan saya tidak bersalah menyebabkan saya menyadari bahwa saya ada, kesadaran saya mencintai diri saya telah membawa kepada perasaan bahwa saya ada, begitu pula ia menggunakan kesadaran seseorang yang ingin bahagia.
Sejak Agustinus meyakini adanya dirinya, ia yakin bahwa dirinya dapat memahami prinsip-prinsip metafisika seperti plato, ia berpendapat bahwa tugas manusia ia memahami segala kenyataanyang selalu berubah. jadi ia memperjelas perbedaan penginderaan yang hanya memberikan kepada kita pandangan semula (a Partiel View) tentang sesuatu dengan yang memberikankepada kita sesuatu dengan yang memberikan kepada kita sesuatu pengertian tentang kebenaran, yang sebenarnya, yang abadi, yaitu kebenaran yang berada dibawah permukaan.
2. Ajaran-ajaran Aquinas
a. Pemikiran Aquinas dalam teologi
Aquinas mendasarkan filsafatnya pasa kepastian adanya Tuhan. Ia mengetahui banyak ahli teologi percaya pada adanya Tuhan hanya berdasarkan pendapat umum. Ada juga ahli teologi yang menganggap eksistensi Tuhan tidak dapat diketahui dengan akal; Itu hanya diketahui berdasarkan iman. menurut Aquinas, eksistensi Tuhan dapat diketahui dengan akal. Untuk membuktikan pendapatnya ini ia mengeajukan lima dalil (argumen) seperti yang diringkaskan berikut ini.
Argumen pertama diangkat dari sifat alam yang selalu bergerak. Di dalam ini segala sesuatu bergerak. Dari sini dibuktikan Tuhan ada. Bierman dan Gould (1973:639) menamakan argumen ini argumen gerak. Jelas sekali bahwa alam ini bergerak. Setiap yang bergerak pasti digerakkan oleh yang lain sebab tidakmungkin suatu perubahan dari potensialitas bergerak aktualitas bergerak tanpa ada penyebabnya, dan penyebab itu tidak mungkin ada pada dirinya sendiri. Dengan katalain, tidak mungkin sesuatu bergerak sendiri. Gerakan adalah perubahan dari potentia ke actus; potentia tanpa sebab lain tdak mungkin Iactus. Akan tetapi, timbul persoalan: bila sesuatu bergerak hanya ada penggerak yang menggerakkannya, tentu penggerak itu pun memerlukan pula penggerak diluar dirinya.Bila demikian, terjadilah penggerak berangkai yang tidak terbatas. Konsekuensinya ialah tidak ada pada penggerak. Menjawab persoalan ini Aquinas mengatakan bahwa justru karena itulah maka sepantasnya kita sampai pada Penggerak Pertama, yaitu Penggerak yang tidak digerakkan oleh yang lain.
Argumen kedua disebut sebab yang mencukupi (efficient cause) (lihat Mayer: 454; Bierman dan Gould: 640). Ringkasannya kira-kira sebagai berikut. Di dalam dunia indrawi kita saksikan adanya sebab yang mencukupi. Tidak ada sesuatu yang mempunyai sebab pada dirinya sendiri sebab, bila demikian, ia pasti menjadi lebih dulu dari pada dirinya. Ini tidak mungkin. Dalam kenyatannya yang ada ialah rangkaian sebab dan musabab. Seluruh sebab berurutan dengan teratur: penyebab pertama menghasilkan musabab, musabab ini penjadi penyebab yang kedua yang menghasilka musabab yang kedua, musabab kedua ini menjadi penyebab yang ketiga yang menghasilkan musabab yang ketiga, dan begitu seterusnya sehingga terjadi rangkaian penyabab. Itu berarti bahwa membuang sebab sama dengan membuang musabab. Artinya, bila tidak ada sebab pertama, tentu tidak akan ada rangkaian sebab itu tadi, dan ini berarti tidak akan ada apa-apa. Nyatanya apa-apa itu ada. Oleh karena itu, wajarlah untuk menyimpulkan adanya sebab pertama, dan itu Tuhan.
Argumen ketiga ialah argumen kemungkinan dan keharusan (possi bility and neccesity) (Bierman dan Gould:640). Kita menyaksikan di alam ini bersifat mungkin. Kesimpulan itu kita ambil karena kenyataanya isi alam ini dimulai tidak ada,lalu muncul, lantas berkembang, akhirnya rusak atau menghilang. Krnyataan itu, yaitu alam berkembang menuju hilang, membawa kita kepada konsekuensi bahwa alam ini tidak mungkin selalu ada karena ada dan tidak ada tidak mungkin menjadi sifat sesuatu sekaligus dalam waktu yang sama. Bila sesuatu tidak mungkim ada, ia tidak akan ada. Nah, mestinya sekarang tidak ada sesutau.Ini berkawanan dengan kenyataan. Kalau demikian, harus ada sesuatu yang ada sebab tidak mungkin muncul yang ada bila ada pertama itu tidak ada. Sebab, bila pada suatu waktu tidak ada sesuatu, maka tidak mungkin muncul sesuatu yang lain. Jadi, ada pertama itu harus ada karena adanya alam dan isinya ini. Akan tetapi, ada pertama itu, ada yang harus ada itu, dari mana? Terjadi lagi rangkaian penyebab. Kita harus berhenti pada penyebab yang harus ada; itulah Tuhan.
Argumen keempat memperhaitikan tingkatan yang terdapat pada alam ini (lihat Bierman dan Gould: 640). Isi alam ini masing-masing berkelebihan dan berkekurangan, misalnya dalam hal kebaikan, keindahan, kebenaran. Ada orang yang dihormati, ada yang lebih dihormati, ada yang terhormat. Ada indah, lebih indah, terindah. Benar juga demikian. Tingkatan tertinggi menjadi sebab tingkatan dibawahnya. Api yang mempunyai panas adalah sebab untuk panas dibawahnya. Yang maha sempurna, Yang maha benar, adalah sebab bagi sempurna dan benar pada tingkatan dibawah-nya. Tuhan, karena itu, adalah tingkatan tertinggi. begitu juga tentang ada. Tuhan memiliki sifat ada yang tertinggi; ada yang dibawahnyadisebabkan oleh ada yang tertinggi itu.
Argumen kelima berdasarkan keteraturan alam (Bierman dan Gould:640-641). Kita saksikan isi alam dari jenis yang tidak berakal bergerak atau bertindak menuju tujuan tertentu, dan pada umumnya berhasil mencapai tujuan itu, sedangkan mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang tujuan itu. Dari situ kita mengetahui bahwa benda-benda itu diatur oleh sesuatu dalambertindak mencapai tujuannya. Sesuatu yang tidak berakal mestinya tidak mungkin mampu mencapai tujuan. Nyatanya mencapai tujuan. Itu tidak mungkin seandainya tidak ada yang mengarahkan mereka. Yang mengerahkan itu pasti berakal danmengerahui. Kita lihat anak panah diarahkan oleh pemanah. Yang mengarahkan alam semesta dan isinya ini harus ada, harus berakal dan harus berpengetahuan. Itulah Tuhan.
Demikian lima argumen tentang adanya Tuhan. Argumen ini amat terkenal pada Abad pertengahan. Argumenditulis oleh Aquinas dalam summa teologica yang dari sana Mayer menguip. Dapat juga dalamBierman dan Ould sebagaimana dikutip dalam karangan ini; juga boleh diperiksa dalam Randal (1950:271-2). Sebenarnya kelima argumen ini tidak tidak ada yang dapat meyakinkan kita tentang adanya Tuhan. Argumen ontologis dari Anselmus (lihat Bierman dan Gould: 637-8) dan argumen moral dari Kant (lihat uraian selanjutnya) lebih dapat meyakinkan.
Jean Jacques Rousseau (lahir di JenewaSwiss28 Juni 1712 – meninggal diErmenonvilleOisePerancis2 Juli 1778 pada umur 66 tahun) adalah seorang tokoh filosofi besar, penulis dan komposer pada abad pencerahan. Pemikiran filosofinya memengaruhi revolusi Prancis, perkembangan politika modern dan dasar pemikiran edukasi. Karya novelnya, Emile, atau On Education yang dinilai merupakan karyanya yang terpenting adalah tulisan kunci pada pokok pendidikan kewarganegaraan yang seutuhnya. Julie, ou la nouvelle Héloïse, novel sentimental tulisannya adalah karya penting yang mendorong pengembangan era pre-romanticism dan romanticism di bidang tulisan fiksi. Karya autobiografi Rousseau adalah: 'Confession', yang menginisiasi bentuk tulisan autobiografi modern, danReveries of a Solitary Walker (seiring dengan karya Lessing and Goethe in Germandan Richardson and Sterne in English), adalah contoh utama gerakan akhir abad ke 18 "Age of Sensibility", yang memfokus pada masalah subjectivitas dan introspeksi yang mengkarakterisasi era modern. Rousseau juga menulis dua drama dan dua opera dan menyumbangkan kontribusi penting dibidang musik sebagai teorist. Pada periode revolusi Prancis, Rousseau adalah filsafat terpopuler di antara anggota Jacobin Club. Dia dimasukan sebagai pahlawan nasional di Panthéon Paris, pada tahun 1794, enam belas tahun setelah kematiannya.
Jean-Jacques Rousseau (lahir 28 Juni 1712, wafat 2 Juli 1778) adalah seorang filsuf dan komposer Perancis Era Pencerahan dimana ide-ide politiknya dipengaruhi oleh Revolusi Perancis, perkembangan teori-teori liberal dan sosialis, dan tumbuh berkembangnya nasionalisme. Melalui pengakuan dirinya sendiri dan tulisan-tulisannya, ia praktis menciptakan otobiografi modern dan mendorong perhatian yang baru terhadap pembangunan subjektivitas --- sebuah dasar bagi karya-karya bermacam-macam pemikir hebat nantinya seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel dan Sigmund Freud. Novelnya "Julie, ou la nouvelle Héloïse" adalah salah satu karya fiksi yang sangat banyak terjual di abad ke-18 dan menjadi acuan penting dalam perkembangan karya-karya romantisme. Ia juga memberikan kontribusi penting pada musik, baik sebagai seorang pengembang teori musik maupun sebagai seorang komposer.
Friedrich Julius Stahl
From Wikipedia, the free encyclopedia
Friedrich Julius Stahl (1840)
Friedrich Julius Stahl (January 16, 1802 – August 10, 1861), German constitutional lawyer, political philosopher and politician.
Contents
  [hide
Biography[edit]
Born at Würzburg, of Jewish parentage, as Joël Jolson[1] he was brought up strictly in the Jewish religion and was allowed to attend the gymnasium. As a result of its influence, he was at the age of seventeen converted to Christianity and baptized into the Lutheran Church at Erlangen in November 6, 1819.[2] To this faith he clung with earnest devotion and persistence until his death. Having studied law atWürzburgHeidelberg and Erlangen, Stahl, on taking the degree of doctor juris, established himself as Privatdozent in Munich, was appointed (1832) ordinary professor of law at Würzburg, and in 1840 received the chair of ecclesiastical law and polity at Berlin.
Here he immediately made his mark as an ecclesiastical lawyer, and was appointed a member of the first chamber of the general synod. Elected in 1850 a member of the short-lived Erfurt parliament, he bitterly opposed the idea of German federation. Stahl early fell under the influence of Schelling, and at the latter's insistence, began in 1827 his great work: Die Philosophie des Rechts nach geschichtlicher Ansicht (an historical view of the philosophy of law), in which he bases all law and political science upon Christian revelation, denies rationalistic doctrines, and, as a deduction from this principle, maintains that a state church must be strictly confessional.
This position he further elucidated in his Der christliche Staat und sein Verhältniss zum Deismus und Judenthum (The Christian State and its relation to Deism and Judaism; 1847). As Oberkirchenrath (synodal councillor) Stahl used all his influence to weaken the Prussian Union of churches (i.e. that compromise between the Calvinist and Lutheran doctrines which is the essence of the Evangelical Church in Prussia) and to strengthen the influence of the Lutheran Church (cf. Die Lutherische Kirche und die Union, 1859). Stahl advocated the formation of an episcopal constitution of the Lutherans, similar to Roman Catholics or Anglicans.[3]
The Prussian minister von Bunsen attacked him, while King Frederick William IV supported Stahl in his ecclesiastical policy, and the Prussian Union would probably have been dissolved had not the regency of Prince William (afterwards William I, German Emperor) supervened in 1858. Stahl's influence fell under the new régime, and, while remaining a member of thePrussian House of Lords ("Herrenhaus"), he resigned his seat on the general synod. While taking a cure he unexpectedly died at Bad Brückenau.
John Locke
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
John Locke
Lahir
29 Agustus 1632
WringtonSomerset, Inggris
Meninggal
29 Agustus 1632
Essex, Inggris
Era
Aliran
Minat utama
Gagasan penting
Tabula rasa, keadaan alamiah; hak-hak dasariah, kebebasan andhak milik
Dipengaruhi[tampilkan]
Mempengaruhi[tampilkan]
Tanda tangan
John Locke (lahir 29 Agustus 1632 – meninggal 28 Oktober 1704 pada umur 72 tahun) adalah seorang filsuf dari Inggris yang menjadi salah satu tokoh utama dari pendekatan empirisme. Selain itu, di dalam bidang filsafat politik, Locke juga dikenal sebagai filsuf negara liberal.[2] Bersama dengan rekannya,Isaac Newton, Locke dipandang sebagai salah satu figur terpenting di eraPencerahan.[3][4] Selain itu, Locke menandai lahirnya era Modern dan juga era pasca-Descartes (post-Cartesian), karena pendekatan Descartes tidak lagi menjadi satu-satunya pendekatan yang dominan di dalam pendekatan filsafat waktu itu.[4][5][6] Kemudian Locke juga menekankan pentingnya pendekatan empiris dan juga pentingnya eksperimen-eksperimen di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.[6]
Tulisan-tulisan Locke tidak hanya berhubungan dengan filsafat, tetapi juga tentang pendidikanekonomiteologi, dan medis.[3] Karya-karya Locke yang terpenting adalah "Esai tentang Pemahaman Manusia" (Essay Concerning Human Understanding), "Tulisan-Tulisan tentang Toleransi" (Letters of Toleration), dan "Dua Tulisan tentang Pemerintahan" (Two Treatises of Government).[3][7][8]
Liberalisme
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.[1]
Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.[2] Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.[2]
Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama didasarkan pada kebebasan mayoritas.[3].
Daftar isi
  [sembunyikan
Pokok-pokok Liberalisme[sunting | sunting sumber]
Ada tiga hal yang mendasar dari Ideologi Liberalisme yakni Kehidupan, Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property).[2] Dibawah ini, adalah nilai-nilai pokok yang bersumber dari tiga nilai dasar Liberalisme tadi:
  • Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being). Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politiksosialekonomi dan kebudayaan.[2] Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.[2]
  • Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.( Treat the Others Reason Equally.)[2]
  • Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.(Government by the Consent of The People or The Governed)[2]
  • Berjalannya hukum (The Rule of Law). Fungsi Negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat. Terhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan terhadap hukumtertinggi (Undang-undang), persamaan dimuka umum, dan persamaan sosial.[2]
  • Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu.(The Emphasis of Individual)[2]
  • Negara hanyalah alat (The State is Instrument).[2] Negara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk
tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri.[2] Di dalam ajaran Liberal Klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah saja ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.[2]
  • Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogatism).[2] Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah.[2]
Dua Masa Liberalisme[sunting | sunting sumber]
Liberalisme adalah sebuah ideologi yang mengagungkan kebebasan.[2] Ada dua macam Liberalisme, yakni Liberalisme Klasik dan Liberallisme Modern.[2] Liberalisme Klasik timbul pada awal abad ke 16.[2] Sedangkan Liberalisme Modern mulai muncul sejak abad ke-20.[2] Namun, bukan berarti setelah ada Liberalisme Modern, Liberalisme Klasik akan hilang begitu saja atau tergantikan oleh Liberalisme Modern, karena hingga kini, nilai-nilai dari Liberalisme Klasik itu masih ada.[2]Liberalisme Modern tidak mengubah hal-hal yang mendasar ; hanya mengubah hal-hal lainnya atau dengan kata lain, nilai intinya (core values) tidak berubah hanya ada tambahan-tanbahan saja dalam versi yang baru.[2] Jadi sesungguhnya, masa Liberalisme Klasik itu tidak pernah berakhir.[2]
Dalam Liberalisme Klasik, keberadaan individu dan kebebasannya sangatlah diagungkan.[2] Setiap individu memiliki kebebasan berpikir masing-masing – yang akan menghasilkan paham baru. Ada dua paham, yakni demokrasi (politik) dankapitalisme (ekonomi).[2] Meskipun begitu, bukan berarti kebebasan yang dimiliki individu itu adalah kebebasan yang mutlak, karena kebebasan itu adalah kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan.[2] Jadi, tetap ada keteraturan di dalam ideologi ini, atau dengan kata lain, bukan bebas yang sebebas-bebasnya.[4]
Pemikiran Tokoh Klasik dalam Kelahiran dan Perkembangan Liberalisme Klasik[sunting | sunting sumber]
Tokoh yang memengaruhi paham Liberalisme Klasik cukup banyak – baik itu dari awal maupun sampai taraf perkembangannya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pandangan yang relevan dari tokoh-tokoh terkait mengenai Liberalisme Klasik.
Martin Luther dalam Reformasi Agama
Gerakan Reformasi Gereja pada awalnya hanyalah serangkaian protes kaum bangsawan dan penguasa Jerman terhadap kekuasaan imperium Katolik Roma.[5]. Pada saat itu keberadaan agama sangat mengekang individu.[5] Tidak ada kebebasan, yang ada hanyalah dogma-dogma agama serta dominasi gereja.[5] Pada perkembangan berikutnya, dominasi gereja dirasa sangat menyimpang dari otoritasnya semula.[5] Individu menjadi tidak berkembang, kerena mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang oleh Gereja bahkan dalam mencari penemuan ilmu pengetahuan sekalipun.[5]Kemudian timbullah kritik dari beberapa pihak – misalnya saja kritik oleh Marthin Luther; seperti : adanya komersialisasi agama dan ketergantungan umat terhadap para pemuka agama, sehingga menyebabkan manusia menjadi tidak berkembang; yang berdampak luas, sehingga pada puncaknya timbul sebuah reformasi gereja (1517) yang menyulut kebebasan dari para individu yang tadinya “terkekang”.[5]
John Locke dan Hobbes; konsep State of Nature yang berbeda
Kedua tokoh ini berangkat dari sebuah konsep sama. Yakni sebuah konsep yang dinamakan konsep negara alamaiah" atau yang lebih dikenal dengan konsep State of Nature.[6] Namun dalam perkembangannya, kedua pemikir ini memiliki pemikiran yang sama sekali bertolak belakang satu sama lainnya.[6] Jika ditinjau dari awal, konsepsi State of Nature yang mereka pahami itu sesungguhnya berbeda.[6] Hobbes (1588 – 1679) berpandangan bahwa dalam ‘’State of Nature’’, individu itu pada dasarnya jelek (egois) – sesuai dengan fitrahnya.[6] Namun, manusia ingin hidup damai.[6] Oleh karena itu mereka membentuk suatu masyarakat baru – suatu masyarakat politik yang terkumpul untuk membuat perjanjian demi melindungi hak-haknya dari individu lain dimana perjanjian ini memerlukan pihak ketiga (penguasa).[6] Sedangkan John Locke (1632 – 1704) berpendapat bahwa individu pada State of Nature adalah baik, namun karena adanya kesenjangan akibat harta atau kekayaan, maka khawatir jika hak individu akan diambil oleh orang lain sehingga mereka membuat perjanjian yang diserahkan oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat bagi penguasa sehingga tidak seperti ‘membeli kucing dalam karung’.[6] Sehingga, mereka memiliki bentuk akhir dari sebuah penguasa/ pihak ketiga (Negara), dimana Hobbes berpendapat akan timbul Negara Monarkhi Absolute sedangkan Locke, Monarkhi Konstitusional.[6] Bertolak dari kesemua hal tersebut, kedua pemikir ini sama-sama menyumbangkan pemikiran mereka dalam konsepsi individualisme.[6] Inti dari terbentuknya Negara, menurut Hobbes adalah demi kepentingan umum (masing-masing individu) meskipun baik atau tidaknya Negara itu kedepannya tergantung pemimpin negara.[6] Sedangkan Locke berpendapat, keberadaan Negara itu akan dibatasi oleh individu sehingga kekuasaan Negara menjadi terbatas – hanya sebagai “penjaga malam” atau hanya bertindak sebagai penetralisasi konflik.[6]
Para ahli ekonomi dunia menilai bahwa pemikiran mahzab ekonomi klasik merupakan dasar sistem ekonomi kapitalis. Menurut Sumitro Djojohadikusumo, haluan pandangan yang mendasari seluruh pemikiran mahzab klasik mengenai masalah ekonomi dan politik bersumber pada falsafah tentang tata susunan masyarakat yang sebaiknya dan seyogyanya didasarkan atas hukum alam yang secara wajar berlaku dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pemikir ekonomi klasik adalah Adam Smith (1723-1790). Pemikiran Adam Smith mengenai politik dan ekonomi yang sangat luas, oleh Sumitro Djojohadikusumo dirangkum menjadi tiga kelompok pemikiran. Pertama, haluan pandangan Adam Smith tidak terlepas dari falsafah politik, kedua, perhatian yang ditujukan pada identifikasi tentang faktor-faktor apa dan kekuatan-kekuatan yang manakah yang menentukan nilai dan harga barang. Ketiga, pola, sifat, dan arah kebijaksanaan negara yang mendukung kegiatan ekonomi ke arah kemajuan dan kesejahteraan mesyarakat. Singkatnya, segala kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar dimana kedudukan manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula dalam politik.
Relevansi kekuatan Individu Liberalisme Klasik dalam Demokrasi dan Kapitalisme[sunting | sunting sumber]
Telah dikatakan bahwa setidaknya ada dua paham yang relevan atau menyangkut Liberalisme Klasik. Dua paham itu adalah paham mengenai Demokrasi dan Kapitalisme.
* Demokrasi dan Kebebasan Dalam pengertian Demokrasi, termuat nilai-nilai hak asasi manusia, karena demokrasi dan Hak-hak asasi manusia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Sebuah negara yang mengaku dirinya demokratis mestilah mempraktekkan dengan konsisten mengenai penghormatan pada hak-hak asasi manusia, karena demokrasi tanpa penghormatan terhadap hak-hak asasi setiap anggota masyarakat, bukanlah demokrasi melainkan hanyalah fasisme atau negara totalitarian yang menindas.
Jelaslah bahwa demokrasi berlandaskan nilai hak kebebasan manusia. Kebebasan yang melandasi demokrasi haruslah kebebasan yang positif – yang bertanggungjawab, dan bukan kebebasan yang anarkhis. Kebebasan atau kemerdekaan di dalam demokrasi harus menopang dan melindungi demokrasi itu dengan semua hak-hak asasi manusia yang terkandung di dalamnya. Kemerdekaan dalam demokrasi mendukung dan memiliki kekuatan untuk melindungi demokrasi dari ancaman-ancaman yang dapat menghancurkan demokrasi itu sendiri. Demokrasi juga mengisyaratkan penghormatan yang setinggi-tingginya pada kedaulatan Rakyat.[7]
* Kapitalisme dan Kebebasan Tatanan ekonomi memainkan peranan rangkap dalam memajukan masyarakat yang bebas. Di satu pihak, kebebasan dalam tatanan ekonomi itu sendiri merupakan komponen dari kebebasan dalam arti luas ; jadi, kebebasan di bidang ekonomi itu sendiri menjadi tujuan. Di pihak lain, kebebasan di bidang ekonomi adalah juga cara yang sangat yang diperlukan untuk mencapai kebebasan politik. Pada dasarnya, hanya ada dua cara untuk mengkoordinasikan aktivitas jutaan orang di bidang ekonomi. Cara pertama ialah bimbingan terpusat yang melibatkan penggunaan paksaan – tekniknya tentara dan negara dan negara totaliter yang modern. Cara lain adalah kerjasama individual secara sukarela – tekniknya sebuah sistem pasaran. Selama kebebasan untuk mengadakan sistem transaksi dipertahankan secara efektif, maka ciri pokok dari usaha untuk mengatur aktivitas ekonomi melalui sistem pasaran adalah bahwa ia mencegah campur tangan seseorang terhadap orang lain. Jadi terbukti bahwa kapitalisme adalah salah satu perwujudan dari kerangka pemikiran liberal.[8]